<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Penalosa</title>
	<atom:link href="http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arthasastha.blog.friendster.com</link>
	<description>Sapere Aude</description>
	<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 13:51:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>NOl</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=33</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=33#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 13:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan Untuk Direnungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[LIfe For a Life]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote></blockquote>
<p><strong>Child Abuse</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><br />
Ada kalanya mata jenuh memandang langit yang terik. Hingga rasanya ingin berteduh. Berteduh di bawah rindang pohon yang hijau. Dan merasakan belaian angin yang sepoi. </strong></p>
<p><strong>tapi itu juga tidak cukup membuat diri merasa nyaman, duduk sendiri tepat di pinggiran Danau Toba (Balige-04 Des 2008) memandang lepas pada kesibukan burung-burung bangau, dan keasyikan para pekeja Verry tidak bisa membebaskan pikiranku dari kejadian malam sebelumnya. </strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>apa aku bagi mereka, dan bagaimana aku bisa menjadi saksi dari penderitaan mereka. andai saja aku bisa memilih &#8221; AKU INGIN BEBAS DARI PENGALAMAN INI&#8221;</strong></p>
<p><strong>aku juga pernah menjadi manusia seusia mereka, tetapi aku tidak pernah mengalami menjadi manusia yang bernasib seperti mereka&#8230;..</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>Biarlah &#8230;&#8230;&#8230;.. Toh; Tuhan sudah Memilih Kita untuk ada di sini.<br />
</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<h4></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=33</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembebasan</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=31</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=31#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 14:02:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan Untuk Direnungan]]></category>

		<category><![CDATA[Tambahkan tag baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Ketika aku masih bayi, sebagai makhluk spiritual yang tak membutuhkan banyak materi duniawi, bagiku yang terpenting adalah kasih dari bunda. Dan saat aku mendapatkannya melalui dekapan dan buaian, juga dari air susunya sebagai perwujudan fisik dari cinta kasihnya, kebutuhanku sudah terpenuhi dengan sempurna.
Menginjak besar, sebagai anak kecil yang senang menjelajah dan bereksperimen, yang terpenting bagiku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;">Ketika aku masih bayi, sebagai makhluk spiritual yang tak membutuhkan banyak materi duniawi, bagiku yang terpenting adalah kasih dari bunda. Dan saat aku mendapatkannya melalui dekapan dan buaian, juga dari air susunya sebagai perwujudan fisik dari cinta kasihnya, kebutuhanku sudah terpenuhi dengan sempurna.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Menginjak besar, sebagai anak kecil yang senang menjelajah dan bereksperimen, yang terpenting bagiku adalah segala macam mainan dan ruang seluas-luasnya untuk berpetualang.</span></p>
<p>Di saat musim Pancaroba menghampiri jalur hidupku, aku mulai merasakan suatu kebutuhan untuk berekspresi dan mencari pengakuan dari lingkungan pergaulanku. Karena itu, yang terpenting bagiku adalah teman-temanku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Kini, ketika usia semakin tua, saat mataku semakin terbuka lebar dan wawasan diperluas oleh buku-buku bacaan dan perenungan, aku mulai melihat kehidupan sebagai sebuah lingkaran tak terputus dari kesengsaraan. Aku mulai menyadari bahwa, seberapa tinggi pun pencapaian duniawiku di dunia ini, jika aku melalaikan tugas utamaku untuk melepaskan diri dari lingkaran Samsara ini, maka aku tak akan pernah menggapai hal terpenting yang seharusnya aku capai: Pembebasan Sejati.<a href="http://www.youtube.com/watch?v=NgDX2xpGwAU">Soul Music</a></span></p>
<p><code></code></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=31</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perasaan-PErasaan Liar Menyerangku</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=10</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=10#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 00:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Reflection at Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/12/perasaan-perasaan-liar-menyerangku/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 0.8em">
<p><a href="http://arthasastha.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/wholesalegreetingcardeveryours.jpg"><img height="266" alt="Wholesalegreetingcardeveryours" src="http://arthasastha.blogs.friendster.com/penalosa/images/wholesalegreetingcardeveryours.jpg" width="200" border="0" /></a> sungguh andaikata DIA bisa meminta apa yang ingin terjadi untuknya, dia hanya ingin lebih bebas dari pengalaman gila ini. Dia pernah menginginkan pengalaman ini terjadi, tapi HIDUP sudah di atur, itu slogan kecil ketika menghadapi PERASAAN-PERASAAN liar ini. </p>
<p>Brada and Sisctha : &quot;Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis&quot;</p>
<p>Kenapa? aku yakin itu yang akan kau tanyakan. dan menyusul pertanyaan Bagaimana kau menahu itu, dan apa yang engkau tahu tidak kami tahu ? itupun hanya akan sebatas pertanyaan, tanpa mau ingin tahu lebih banyak&#8230;.</p>
<p>Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tidak seorang pun bisa yakin bahwa besok dia masih bisa tersenyum. Belumkah tersadar kalau nantinya masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan (ini hanya sedikit perasaan liar)</p>
<p>Pipit si burung kecil yang menjadi salah satu pengisi alam ini berinisiatif terbang ke gedung dimana aku sedang melamun, tanpa perintah manusia. mungkin dia JANTAN, BETINA-nya tentu gusar atas kepergian PIPIT JAntan yang tidak diketahuinya telah terkapar di hadapanku dan aku memungutnya. sesaat aku berpikir BEGITU malangnya nasib Pipit ini, dan pastilah BETINA-nya akan merasa kehilangan-nya, dan akan merasa kesepian untuk sisa kehidupannya. kemudian aku memikirkan AKAN samakah yang di rasakan Pipit betina dengan-MU JIKA kelak nantinya aku terpisah Dengan-mu tanpa engkau TAHU kemana aku akan melangkah, katakan saja jika nantinya MATI. (perasaan liar juga)</p>
<p>Aku membuka pintu kamar-ku.Bau pewangi ruangan aroma Jeruk tercium dari kamar, sesaat kemudian diganti dengan bau apek baju belum kering yang digantung oleh teman sekamar di dalam kamar. ada kesan ketika aku mencium bau apek ini, mengingatkan aku tentang kemarahan besar Teman Sekamar di Seminarium HK.., yang selalu rajin menyembunyikan Pakaian KOTOR nya, dan dengan percaya diri AKU membuangnya dan berkumpul bersama ribuan sampah lainnya. Kemarahan itu kembali terlintas dan aku memikirkan&#8217; Apakah sikapku itu sebagai perhatian atau sekedar luapan dendam seketika, PEmuas Ego sesaat. (Perasaan liar)</p>
<p>Semalam, walau sebenarnya hal yang tidak aku suka, tapi demi menghargai undangan SEBAGAI PENGANTAR kah? aku beranikan diri dan dengan PD-nya aku mengantar 2 teman ke Stasiun walau aku tahu tidak sama sekali aku senang dengan SUASANA perpisahan, walau hanya sebulan, tapi karena tidak ada kepastian &#8216;AKAN kah KAMI akaN KEmbali BErtemu&#8217; sama dengan kisah yang terjadi di penghujung tahun 2005, </p>
<p>&#8216;Nyawa bisa di ambil sewaktu waktu. Kita tidak bisa mengira ngira kapan akan terjadi. Dedicated to my brother Chrisandi Alzeyra. I love and miss u so much. I`ll never forget u. Rest in Peace my bro&#8217;</p>
<p>sedih dan pikiran mencoba menahan air mata di hadapan mereka, walau akhirnya terjadi juga sesampai di Kamar yang kini KOSONG tanpa siapa-siapa. kutemukan hanya diriku, tapi itu lebih menyenangkan. (Perasaan Liar-niHil kepastian)</p>
</p>
<p>Hari baru kembali. Langit cerah, mengiringi matahari kembali ke tempatnya bersinggahsana. Dari balik jendela samar kusaksikan semua keagungan Tuhan melalui GUNUNG api yang jelas dapat aku lihat dari jendela kamarku,sambil melintas menjelajahi dunia imajiku.</p>
<p>&#8230;Hingga masih..bisa kurangkul kalian, sosok yang mengisi kehampaan KALBUKU.. Lembayung BALI (saras dewi)</p>
<p>Aargh&#8230;kenapa lagu itu yang diperdengarkan? Aku merasa tersindir oleh lagu itu. kuraih ponselku, bermaksud merubah gelombang radio itu, tapi kuurungkan niatku. Peduli amat dengan lagu itu!! Kembali aku menjelajah ke dalam ruang imajiku.Tiba-tiba tanpa permisi, melintas seraut wajah dengan senyum mahalnya. Wajah itu, telah memenuhi ruang imajiku akhir-akhir ini, yang tidak akan lama lagi mungkin hanya sebatas kenangan (perasaan liar)</p>
</p>
</p>
</p>
</p>
</p>
</p>
</p>
</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=10</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meng-anamnesiskan TRAGEDI nasional TSUNAMI aceh</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=9</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=9#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 14:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Reflection at Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/12/meng-anamnesiskan-tragedi-nasional-tsunami-aceh/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 0.8em">
<p><a href="http://arthasastha.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/acehtsunami01.jpg"><img height="134" alt="Acehtsunami01" src="http://arthasastha.blogs.friendster.com/penalosa/images/acehtsunami01.jpg" width="200" border="0" /></a> Sebuah perjalanan waktu menapaki segala yang ada di dunia ini ciptaan Sang Ilahi, terukir manis banyak kenangan yang menyertai, sebuah pengalaman yang menjadi sebuah prasasti kehidupan seorang anak manusia tuk berjalan menuju ke sebuah tujuan pasti, yaitu kematian. </p>
<p>Pesta akan segera dimulai, setiap orang mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadirkan kegembiraan di dalam suasana pesta itu, ada sebersit harapan optimis, meski tak sedikit pesimistis yang datang menghadang. sudah menjadi mitos NAtal dan Tahun Baru dengan begitu gegap gempita, bagi rakyat kecil inilah suasana untuk menumpahkan segala kesusahan dan kesedihan hidup mereka. sekali dalam setahun, mereka perlu merayakan untuk menghilangkan kepenatan.</p>
<p>tetapi, tiba-tiba sebelum pesta itu tiba-tiba manusia tersentak ketika mimpi kelabu itu datang lagi, mimpi yang tidak pernah diharapkan dan di undang. </p>
<p>Sesungguhnya apa yang membuat kita semua tidak hanya terkejut dan terpana pada bencana gempa dan tsunami di beranda rumah kita ACEH lalu berduyun kita dengan gegas membantu. tidak hanya dipelosok kelurahan atau setiap perempatan jalan kota-kota besar di negeri ini, tapi juga puluhan negara dari ujung timur hingga barat bumi ini, puluhan pemempin negara dan ratusan selebritis lokal dan interlokal dengan tegas melalui media-media dapat diketahui turut serta berbela rasa kepada korban BENCANA gempa dan tsunami. Di sisi lain sebagai pemberbela rasa kita melihat bagaimana antusias Tourist Bencana ikut menggumuli dan berperan serta menyemarakkan dunia yang sedang di timpah bencana itu (Bandingkan Dengan Kehadiran Pemimpin HKBP dan rekan-rekannya di LUPA LUSI &#8216;lumpur panas : lumpur sidoarjo&#8217;) sebagai mahluk berdasi sekaligus memerankan Tourist Bencana. </p>
<p>Boleh jadi, gempa dan tsunami di ujung 2004 lalu itu, sesungguhnya menjadi semacam tanda bagi dunia cemas kita saat ini, seperti yang biasa aku bilang &quot;Dunia kehilangan Pegangngan&quot;. dunia yang ditandai dengan terorr, kehancuran lingkungan (LUSI) yang luar biasa, perilaku politik dan kereligiusan yang semakin liar, ekonomi timpang yang menjadi-jadi sebagai buah terbaik dari pertumbuhan KAPITALISME. </p>
<p>dan lebih kuat lagi, psikologi masyarakat dunia yang melihat semua itu sebagai gejala disonder, masa depan yang chaotik (padahal sebagai kristen, kita memaknai bahwa YHWH telah mengalahkan CHAOS pada saat pencibtaan kosmos) kenapa CHAOS kembali menyapa manusia, ketika tidak ada satupun di dunia ini yang dapat menjamin stabilitas rasa damai dan aman bagi kita semua. tidak perserikatan BANGSA-BANGSA-penanggung jawab utama orde dunia- tidak AMERIKA SERIKAT-TIDAK HERCULES-TIDAK SPIDERMAN-TIDAK HULK-TIDAK HARRY POTTER-TIDAK KAPITALISME-ideologi kita semua.</p>
<p>Dunia kita saat ini adalah LAKON tiga babak tentang KECEMASAN. dan tsunami ACEH hanyalah TEASER atau THRILLER kecil, atau boleh jadi APPETIZER menjelang MAIN COURSE di meja dinner peradapan kita saat ini. MEja yang mewajibkan semua anggota keluarga datang dan duduk melingkar, menghadapi hasil dapur, hasil kerja, hasil budaya dan peradaban yang diproduksi oleh manusia sendiri.</p>
<p>mungkin inilah MOMENTUM bagi kita, juga dunia untuk memeriksa kembali dengan seksama apa yang telah kita perbuat di beberapa abad belakangan. MOMENTUM KITA UNTUK MEMILIH, MEMILAH BAHKAN MENYINGKIRKAN SEBAGIAN DARI HASIL PERADABAN YANG TIDAK MENGUNTUNGKAN.</p>
<p>SALAM : DEI GRATIA</p>
</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=9</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>A Little Lesson about Life I</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=8</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=8#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 14:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/12/a-little-lesson-about-life-i/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arthasastha.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/200pxlovestory0hh.jpg"></a><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">Tidak tanpa alasan seseorang menuliskan sesuatu tentang dirinya, baik itu pengalaman,impian atau juga hal-hal yang sekecil apapun itu. pastilah ada tujuan seorang penulis menuliskan walau hanya sebatas kalimat singkat. bisa itu sebagai suatu kesempatan baginya untuk meng-anamnesiskan pengalamannya atau membentuk pengalaman tersebut sebagai media peng</span><a href="http://arthasastha.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/200pxlovestory0hh_1.jpg"><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em"><img height="287" alt="200pxlovestory0hh_1" src="http://arthasastha.blogs.friendster.com/penalosa/images/200pxlovestory0hh_1.jpg" width="200" border="0" /></span></a><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em"> ajaran untuk orang lain. </span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">Mungkin ini adalah tulisan saya yang paling konyol. Tidak ada kata puitis di dalam judul dan tidak ada pesan tersembunyi di balik tulisan ini. Semuanya saya nyatakan secara vulgar, terus terang dan tanpa basa-basi. Ini sejalan dengan sikap saya yang apa adanya, tanpa tambahan pemanis dan penyedap rasa. Kalau orang bertanya siapakah saya? Ya, saya adalah apa yang ada dalam tulisan ini, yang mencoba dengan jujur mendeskripsikan suasana hatiku yang entah untuk keberapa kalinya sudah aku ceritakan kepada sahabat, keluarga bahkan kepada orang-orang yang pernah bersamaku di LP Pematangsiantar (bukan sebagai tahanan, hanya sebagai pengunjung rutin, dan juga bukan sebagai tahanan Luar).</span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">untuk beberapa teman yang ada di friendster mungkin dengan jujur jika ada yang bertanya tentang ini mereka juga akan mengatakan Ini suatu realita yang pernah terlintas dalam hidup seorang lelaki terkutuk, setidaknya itulah aku memahami diriku setelah beberapa lama semua peristiwa itu terjadi. Peristiwa dimana untuk setiap sisa hidupku mungkin akan tetap sebagai penyesalan.</span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">Dengan kata lain, saya hanya menulis dan bersaksi mengenai apa yang pernah saya alami, dan sebagai saksi dari pengalaman itu saya hanya ingin membagikan pengalaman, itu kalau bisa disebutkan, bukan dalam rangka DIDACHE (pengajaran atau mendidik).</span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">baiklah aku mengawali Apa Arti LOVE SONG untuk saya. Love song biasanya semua lagu yang bertemakan cinta dan pada umumnya lagu-lagu yang udah jadul banget tapi tetap didengar, dan mungkin pengobat rindu kita akan semua kenangan masa lalu kita…?? tapi buat saya love song memang sangat berarti jika lagi nongkrong sendirian trus ingat semua kisah dan cerita dengan sahabat, saudara, keluarga dan dengan SEORANG YANG PERNAH MENEMANI KITA (baca : KEKASIH).</span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">apa yang terindah dimasa lalu mungkin gak bakalan pernah kita lupakan sebab semua kisa itu bisa membuat kita tersenyum untuk mengingatnya.. hmm.. pasti ada dari sekian banyak kenangan yang pernah terukir ada yang paling mengesankan hingga kita untuk melupakannya sangatlah susah, Tetapi tidak semuanya pada masa lalu itu kita menemukan hanya kebahagiaan, tidak bisa kita pungkiri mungkin cerita air mata pun kerap terlintas dalam hidup kita. </span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">ada alasan pasti kenapa saya mendahului ini tentang LOVE SONG dan tentunya kita punya lagu “kebangsaan” untuk mengwakilkan perasaan semua itu just like me i really want to say thanks for Andy Williams “Love Story”&nbsp; and Elvis Presley &quot;You Don&#8217;t Have To say You Love Me&quot; soalnya tuh lagu sangat berarti buat saya jika mengingat kisah bareng maya.. and how about you…??? </span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">Dua lagu lama itu memang banyak yang mengakui Keren (untuk bahasa sekarang), bahkan my Mother masih sempat mengajarkan saya lagu yang Elvis Presley punya, sedangkan untuk Andy Williams itu hanya sebuah perkenalan tidak di sengaja. Awalnya aku hanya mengerti musik dari lagu itu, karena memang sering menjadi BEL (lonceng) sekolah, tidak jauh beda dengan Fure Elise.</span></p>
<p><span style="color: #0066ff;font-size: 1.2em">Lagu emang kadang jadi penanda. O… lagu itu ngingetin waktu aku kelas 6 SD, semuda itu aku sudah terbiasa mendengar love song, Pengaruh ANAK bungsu yach (7 dari 7 dan spasi 4 tahun dari kakak di atas saya, Lagu ini ngingetin waktu duduk di SLTP dan selalu akrab di telinga karena menjadi BEL untuk pertanda Istirahat, Lagu ini juga ngingetin Masa SMU di SUltan Agung.. dan dari sinilah awal semua-nya terjadi.&nbsp; lagu juga itu ngingetin tahun kedua masuk kuliah di barak K tetangga dengan Desquart yang selalu risih kalau lagu ini kuputar, maklum beda aliran walau sama-sama penikmat lagu-lagu mello, lagu itu ngingetin jaman OPMB di kampus-STT-h. lagu ini juga dengan senang hati mengingatkan aku duduk santai di tengah malam di depan piano menemani My Mom untuk membaca BUKU-PAJONOK-nya. Banyak sudah Lagu ini menemani aku dalam menjalani waktu. </span></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=8</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=7</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=7#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 08:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Reflection at Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/12/tiga/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Aku terjebak pada tiga kota.</span><br /><a href="http://arthasastha.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/ist2_1737924_til_my_soul_is_no_more.jpg"><img height="266" alt="Ist2_1737924_til_my_soul_is_no_more" src="http://arthasastha.blogs.friendster.com/penalosa/images/ist2_1737924_til_my_soul_is_no_more.jpg" width="200" border="0" /></a> <br />Satu kota, kampung halaman, tempat berpacu doa, harap dan air mata.</p>
<p>Satu kota, kota pecinta, tempat tergantung seluruh rasa&#8217;</p>
<p>Satu kota, tempat seluruh janji dibuat untuk setia.</p>
<p><span>Aku terjebak pada tiga hati.</span></p>
<p>Satu hati, sungguh paling mengerti, namun perihnya masih berdenyut.</p>
<p>Satu hati, menyerah kalah, walau sosoknya sungguh kupuja.</p>
<p>Satu hati, terus berjuang, meski pastiku tak dapat terpegang.</p>
<p><span>Aku terjebak pada tiga rasa.</span></p>
<p>Satu rasa, cinta bercampur rasa iba dan kecewa.</p>
<p>Satu rasa, takut untuk jatuh cinta</p>
<p>Satu rasa, ketidakpastian namun berujung cita cita.</p>
<p>Aku&#8230;terjebak&#8230;pada&#8230;tiga</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=7</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Batax PeopLe New Comer In Yogya : apa Yg TerJadi Bagian I</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=6</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=6#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 16:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Reflection at Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/10/batax-people-new-comer-in-yogya-apa-yg-terjadi-bagian-i/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000cc;font-size: 0.8em">Hoaioaaaoiaoiaoi<br />Hooaoaoaiaoaoaoi</p>
<p>mau Nulis apa Yach&#8230;.klw nda aD cuma<br />aza NgineP Di Warnet- semalaM SuntUK<br />TemaNIn Si Kawan BegadanG Jarak-<a href="http://arthasastha.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/batak_house_sumatra.jpg"><img height="116" alt="Batak_house_sumatra" src="http://arthasastha.blogs.friendster.com/penalosa/images/batak_house_sumatra.jpg" width="100" border="0" /></a> 160<br />Jauh&#8230;. Siantar-Yogya Nwek&#8217;s Lewat<br />YM..asYek JOga&#8230;Sukses Buat Skripsi-<br />MU saUdara-Ku&#8230;</p>
<p>sudah Ketemu&#8230; ada Juga yG mOW di<br />Tolis sebuah Fenomena Lama sekaligus<br />baru Nyata setelah aku Menjadi New-<br />Comer Di YOGYAkarRTE&#8212;Bukan dlam arti<br />sesuggUhnya new Comer&#8212;- COz 2,3 TaON<br />KemaRen WaktU KANTUNG awak NEh daba<br />masih Godang Hepeng-na&#8230; yogYa Jadi<br />TemPAt &#8216;miting&#8217;awak lah (<br />Baca : &#8216;batak&#8217;)&#8230;</p>
<p>&lt; BR&gt;ini DIa Fenome-na Na&#8230;</p>
<p>Tulisan sederhana ini sekedar<br />merefleks ikan sebuah pengalaman dari<br />kenyataan yang disadari atau tidak,<br />berperan dan memainkan peranan penting<br />dalam menunjukkan identitas kedaerahan<br />kita. Pengalaman dari kenyataan ini<br />sekaligus mencemaskan dan<br />memprihatinka n akan hilangnya atau<br />pudarnya identitas daerah itu, yakni<br />pemakaian bahasa daerah&#8217; Dalam Hal InI<br />Bahasa BATAK &#8230; aha do na naeng si<br />pahusor-husoro nta di Tikkion&#8230;.On<br />ma. ..</p>
<p>Mungkin bagi kebanyakan orang terlalu<br />mengada-a da kalau berbicara tentang<br />keprihati nan akan kelanjutan dan<br />kelestarian bahasa Daerah<br />kita&#8217;Bugh. ..alai anggo Di<br />ahu&#8230;marlapat an Dope i&#8230;</p>
<p>MAri mencoba untuk sejenak melihat dan<br />menyadari kenyataan yang terjadi di<br />Kota kita Yang Baru, kita mungkin<br />setuju kalau sudah sejak lama bahasa<br />daerah kita “dihambat” untuk bertumbuh<br />dan berkembang sewajarnya. Satu<br />pengalaman nyata yang boleh kita<br />renungkan bersama. Masih segar dalam<br />ingatan saya bahwa ketika masih duduk<br />di bangku sekolah dasar ampe SMA di<br />SUltan AgunG kami dilarang menggunakan<br />bahas a BATAX di lingkungan sekolah. Di<br />satu sisi larangan ini cukup membantu<br />para murid untuk sedapat mungkin bisa<br />belajar menggunakan bahasa Indonesia<br />dan Belajar Bahasa MANDARIN dan<br />INggeris.. yang nota bene adalah<br />bahasa nasional kita. Tetapi di sisi<br />lain kita sebenarnya menghambat apa<br />yang sebenarnya harus bertumbuh secara<br />alamiah.</span><strong><br /><span style="color: #0000cc;font-size: 0.8em">Ada seorang teman yang pernah<br />berdiskusi tentang bahasa daerah bahwa<br />ada teman-teman orang BATAK yang baru<br />mulai belajar bahasa daerah BATAK<br />ketika berada di JAWA- Sama halNya<br />dengan Saya. ironis-nya ada anak MUda<br />terkhusus yang merasa BORU NI RAJA ni<br />HALAK BATAK&#8217;<br />&quot;&quot;merasa EnggaN MARBASA BATAK molo Nga<br />di Pangarattoan- Isarana Parsiajar na<br />mangihuti parsiajaran Di Jakarta, atau<br />di Yogya-&quot;&quot; attar di baen ma Tong<br />Bahasa Indonesia na sian Jakarta<br />i&#8230;Heheh ehe&#8230; Gue&#8217; Getu,,, BABAM ma<br />Bah&#8230;ninna roha ma kadang&#8217; molo nga<br />ni Bege Boru NI raja i marhata-hata<br />Jaka rta atau Yogya&#8217; Ro ma Muse Anak Ni<br />Ompui, yg Original dari Tarutung atau<br />Siborong-bor ong ( Tarutung/siborong-</span><strong><span style="font-size: 0.8em">borong,balige KOTA BATAK yang masih<br />melestarika n adat dan BUDAYA batak<br />dalam arti yang sesungguhNya )<br />Yang Nota Bene Pernah KUliah selama 3<br />tahun di BANDUNG .. dan marhata-hata<br />GUe Juga&#8230; Ya kalau saya Sih&#8221;&#8217; ya<br />Gitu Deh&#8230;. Babam Ma Ba&#8230; Ninna<br />Roha ma MUse&#8230;. hoioioioooioio</span><span style="color: #0000cc"><br /></span><strong><span style="color: #0000cc;font-size: 0.8em">Mungkin pengalaman-pengalama n ini<br />cukup menggelikan (atau memalukan?)<br />tetap i itulah kenyatannya. Suatu<br />kenyataan yang umumnya terjadi di<br />kalangan muda, generasi penerus budaya<br />daerah yang seharus-nya&#8230;.<br />&lt; BR&gt;Mengapa demikian? Entahlah. Saya tidak<br />mempunyai jawaban pasti untuk<br />pertanyaan ini. Tetapi adalah suatu<br />kenyataan bahwa orang-orang muda di<br />zaman modernisasi ini merasa malu<br />menggunakan bahasa daerahnya karena<br />akan (takut) disebut orang kampung<br />atau kampungan/wong ndeso . Orang<br />merasa kehilangan harga dirinya kalau<br />berbahasa daerah ( dang tahe ? )</p>
<p>Mungkin secara psikologis kita terbius<br />oleh mental membeda-bedakan antara<br />(orang kampung) dan (orang kota) di<br />satu sisi; Marhata Batak dan Marbahasa<br />Indones ia- Dalam hal ini Memakai<br />artikulas i Orang Ibukota&#8217; di sisi<br />lain, dengan logika ini: Orang kota<br />Berbahasa Daerah&#8217; Orang Desa Berbahasa<br />Ibu KOta(maaf kalau saya keliru!) Tapi<br />Itulah KenyataanNYa&#8230;.</p>
<p>Emang Kenapa ? Coba ucapkan kata-kata<br />ini dngan artikulasi BATAK ?</p>
<p>Lupa pula aku ? Artikulasikan dengan<br />BAHASA JAWA / Ibu Kota..</p>
<p>Masih Berlanjut&#8230;&#8230;. II</span></strong></strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=6</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Sama Sama Membutuhkan Kasih Sayang</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=5</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=5#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 16:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan Untuk Direnungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/04/kita-sama-sama-membutuhkan-kasih-sayang/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=5</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ketulusan Melahirkan KetenanGan</title>
		<link>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=4</link>
		<comments>http://arthasastha.blog.friendster.com/?p=4#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 16:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arthasastha</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arthasastha.blog.friendster.com/2007/04/ketulusan-melahirkan-ketenangan/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle">
<h2></h2>
</div>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><span style="font-size: 0.8em">Hidup penuh dengan liku-liku perjalanan, ada saatnya diatas kemudian terjun bebas ke dasar jurang. Kadangkala ke kanan dan bukan tidak mungkin lari juga ke kiri. Seperti roda pedati yd kadang di atas dan kemudian di bawah dengan perasaa yg jauh sangat berbeda.</span><br /><span style="font-size: 0.8em"><br />Adakah diantara kita melakukan perbuatan karena memang ingin melakukannya dari hati yang paling dalam. Relakah kita membantu orang lain tanpa mengharapkan suatu saat dia akan membantu kita, bukankah membantu seseorang karena ingin benar-benar membantu akan membawa kebahagiaan tersendiri daripada membantu dengan harapan akan ada balasan? Kalau membantu karena ingin sekali melakukannya maka itu akan membawa ketenangan jiwa daripada membantu untuk suatu bantuan sebagai balasannya akan membawa neraka apabila tidak didapatkan feedback seperti yg diinginkan. Alangkah indahnya hubungan antar sesama kalau seandainya hal ketulusan hati masih melekat di hati setiap insan.</span></p>
<p>Perbuatan banyak orang selalu diiringi harapan supaya orang lain berbuat seperti itu kepada dia. Sangat jarang sekali orang berbuat karena benar-benar ingin berbuat. Mereka selalu melakukan segala sesuatu itu dengan menggunakan hukum Jika-Maka, Jika dia membantu saya maka saya akan membantu dia dengan senang hati, jika si Polan memberi aku makan maka aku akan menjamu dia dengan jamuan yg paling nikmat. Yang paling parah sebenarnya, jika dia menyakiti hati saya maka saya juga akan membuat hatinya jauh sakit lagi. Maka sampai habis halaman ini ditulis tidak akan cukup untuk menggambarkan perbuatan yang mengikuti hukum Jika-maka tadi.</p>
<p>Bunga,,, begitu indah kalau dipandang dan mengeluarkan aroma yang begitu mengetarkan saat bunga itu mekar, perhatikanlah setangkai bunga ditaman,Apakah bunga itu menuntut pujian dan decak kagum dari anda? Apakah kemekaran dan aroma bunga itu akan lebih indah karena dipuji, daripada kalau bunga ini hanya dipandangi oleh mata yang susah untuk dikontrol ini? Bunga dengan tulus dan ikhlasnya menebarkan aroma wangi dan kecantikan yang sangat amat indah tanpa minta pujian yang terkadang hanya sebagai simbol kemunafikan.</p>
<p>Dengarkanlah kicauan burung tatkala anda bangun di pagi hari yang indah dan cerah, bukankah tidak merupakan suatu ketulusan bagi sang burung untuk berkicau yang terkesan menyanyikan kidung alam? Burung tidak membutuhkan apa pun dari kita, kita hanya menikmati keindahan itu kalau memang masih memiliki kepekaan terhadap itu, atau hati kita sudah terlalu dalam ditimbun oleh kebencian, emosi dan kemarahan yang sangat merusak kepekaan itu sendiri. Masih sadarkah kita bahwa kicauan itu akan terus terdengar setiap pagi tanpa ada yang mengeluarkan perintah untuk melakukannya setiap saat. Saya percaya apabila ketulusan dan keikhlasan itu tidak ada pada burung ini maka dia akan berkicau saat emosinya lagi dalam keadaan tenang, tetapi saat pikirannya dan perasaanya dipenuhi oleh tuntutan perbuatan yang belum dibalas maka dia akan diam tanpa mengeluarkan kicauan yang sangat merdu tadi.</p>
<p>Belajar dari teladan bunga dan burung diatas, alangkah indahnya dunia ini kalau seandainya ketulusan dan keikhlasan masih ada pada kita masing-masing. Dengan ketulusaan dan keikhlasan terakhir bukankah ketenangan pikiran akan sering datang berkunjung daripada perbuatan yang menuntut balas yang sering menimbulkan rasa benci yang amat dalam apabila balasan yang kita terima tidak sesuai dengan yang kita inginkan sebagai balasan dari perbuatan baik kita. Saya sering mengalami hal seperti ini, tetapi dengan kemauan dan kerja keras melawan ego serta emosi maka saya mencoba menggoreskan tulisan inisebagai dorongan bagi saya untuk mencoba terus mempraktekkannya. Mengapa kita tidak memulainya dari sekarang untuk mengerti arti sebuah ketulusan yang membawa kedamaian dan mencobanya kepada teman kita yang paling dekat sebagai tonggak untuk kita mengembangkannya kepada siapapun yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. Cobalah melakukannya maka hidup akan terasa ringan karena tidak akan diberatkan oleh pikiran terhadap hutang budi orang lain kepada kita. Maaf,,, saya tidak bermaksud menggurui apalagi mangajar anda, saya hanya digerakkan oleh suara hati yang ingin mengajak kita untuk kembali merenungkan arti ketiga kata tersebut di atas. Maukah kita memenuhi ajakan ini?</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arthasastha.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=4</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
